Essay PBAK

MENJAWAB TANTANGAN MASYARAKAT MASA KINI”

Banyak cara yang dilakukan manusia untuk mendapatkan kenyamanan, kebahagiaan dan keselamataan dalam hidupnya. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mempernyaman lingkungannya, yaitu tempat atau ruang dimana manusia hidup dan tinggal. Banyak pula norma-norma yang kini diterapkan untuk mempernyaman kehidupan.
Dengan kata lain perlu adanya ilmu yang dapat memnjalankan norma tersebut. Maka dari itu peranan ilmu humaniora sangatlah penting untuk keberlangsungan hal tersebut. Keberlangsungan hidup manusia dalam ilmu hiumaniora sangatlah berkenaan dengan zaman sekarang ini. Di indonesia perkembangan ilmu humaniora sangatlah tekebelakang pada saat ini, banyak sekali masyarakat yang mengabaikan ilmu tersebut. Akan tetapi pernyataan tersebut menjadi tantangan rencana pembangunan kemanusiaan. Peningkatan mutu sumber daya manusia tanpa diimbangi ilmu-ilmu humaniora adalah hal yang ironis bahkan keliru, karena pada dasarnya ilmu humaniora dapat menerjemahkan ide-ide secara praktis dalam kaitannya dengan pembangunan bangsa dan negara, memberi peran dan sumbangsih yang tak ternilai.
istilah humaniora yang berasal dari program pendidikan yang dikembangkan Cicero, yang disebutnya humanitas sebagai faktor penting pendidikan untuk menjadi orator yang ideal. Penggunaan istilah humanitas oleh Cicero mengarah pada pertanyaan tentang makna dalam cara lain bahwasanya pengertian umum humanitas berarti kualitas, perasaan, dan peningkatan martabat kemanusiaan dan lebih berfungsi normatif daripada deskriptif (Sastrapratedja, 1998:1).
Ilmu humaniora memegang peranan signifikan dalam mengembangkan nilai-nilai kehidupan masyarakat dan menuju karakter kehidupan berbangsa dan bernegara. Keberadaanya memiliki sumbangsih penting dalam menerjemahkan pemikiran-pemikiran dan ide-ide yang ideal, sehinga dapat menjawab tantangan bagi masyarakat dalam aspek sosial.
Membahas mendalam tentang peran ilmu humaniora untuk pembangunan manusia sebagi upaya mendorong ilmuwan untuk berpartisipasi aktif mengkaji dan mendiskusikan perkembangan terkini ilmu humaniora, serta mendesiminasikannya ke publik yang lebih luas. Isu-isu terkait masyarakat pinggiran dinamika kependudukan terkait globalisasi strategis menuju pembangunan inklusif dan berdaya saing, transformasi sosial dan budaya, tentang demokrasi pada dunia yang mengglobal globalisasi dankonektivitas serta demokrasi, indentitas, dan agama.
Menurut para ilmuwan Secara singkat, ilmu humaniora merupakan ilmu untuk memanusiakan manusia.
Penelusuran atas pengertian humaniora dalam sejarah peradaban umat manusia menjadi salah satu titik tolak yang sangat penting. Woodhouse (2002:1) dalam artikelnya yang berjudul The Nature of Humanities: Historical Perspektivemenegaskan bahwa
Gellius mengidentikkan humanitas dengan konsep Yunani paideia, yaitu pendidikan (humaniora) yang ditujukan untuk mempersiapkan orang untuk menjadi manusia dan warga Negara yang bebas. Pada zaman Romawi gagasan tersebut dikembangkan menjadi program pendidikan dasariah. Beralih pada zaman Pertengahan pendidikan humaniora berusaha menyatukan konsep paideia dengan kekristenan.
Ketika memasuki zaman Renaissance, para humanis Italia menghidupkan kembali istilah humanitas, sebagaimana dipakai oleh Cicero, dan menjadi studi humanitas, yang mencakup gramatika, retorika, puisi, sejarah, dan filasfat. Ketika itu dibedakan antara apa yang dianggap Kekristenan dan apa yang dianggap secara otentik merupakan esensi kemanusiaan. Oleh karena itu kemudian berkembang perbedaan antara studidivinitas dan studi humanitatis (Sastrapratedja, 1988:2)dalam gagasan tentang sebuah universitas.
Humanitas juga mengacu pada perkembangan intelektual dan pelatihan intelektual atau proses dan tujuan utama pendidikan liberal.
Selanjutnya dalam sistem pendidikan di Barat dikenal istilah artes liberales (liberal arts) dan di lingkungan Anglo-Saxon disebut “humanities”. Pendidikan humaniora dianggapmempunyai fungsi pengembangan “humanitas” dalam diri manusia (Woodhouse, 2002:2). Meskipun pada zaman Aufklarung humaniora banyak dikritik, tetapi program itu tetap menjadi dasar pendidikan pada abad ke-18 dan 19. Pada awal abad ke-19, ditekankan perbedaan antara ilmu-ilmu kemanusiaan dan ilmu-ilmu alam. Dilthey membagi ilmu menjadi dua kelompok yakni Natuurwissenschaft dan Geisteswissenschaft (Rizal Mustansyir, 2003: 124).

Komentar